preloader

Senin pagi jadwal kelas yang tak jelas kosong atau belajar Di sebuah pondok pesantren yang mulai modern Sejajar dengan keseharian para generasi di era milenial

blog-thumb

Senin pagi, jadwal kelas yang tak jelas, kosong atau belajar. Di sebuah pondok pesantren yang mulai modern. Sejajar dengan keseharian para generasi di era milenial, pagi adalah nyawa sang sunyi. Secerca dingin tak menang saat diperkosa oleh sinar emas dari timur pada jam tujuh. Degup tulisan yang dianggap sihir oleh kaum lampau, seperti menapaki debu yang masih basah di sekitaran beberapa rumput yang sudah bergoyang saat fajar. Nuhera. Seorang santri wati berkarakter warna merah. Badannya dibungkus oleh seragam sekolahan, putih dan kelabu. Dia berjalan santai beriringan dengan beberapa temannya. Mereka menuju ke kelas.

Nuhera agak merasa bosan pagi itu. Dia tidak mau berkomentar terhadap anggapan teman-temannya yang agak sok tahu dengan rasa saat itu.

Kata Nuhera, “Rasa selalu tidak perlu dibahas terlalu panjang.” Demikian sudut pandang dari santri wati bertubuh agak kecil itu.

Kelas social dalam keadaan ribut saat mereka memasuki kelas tersebut dengan santai. Teman cowoknya sudah sangat gila dengan pagi yang didominan oleh percakapan modus dari mereka.

Ma’aji. Santri berkulit putih yang tampilannya selalu berantakan. Dia melempar sesuatu tepat di kepala Nuhera. Seonggok kertas cakaran ekonomi yang dia remuk sebelumnya tadi. Kemudian dia tertawa bahagia dengan sedikit keterlaluan. Kemudian berlari mengelilingi kelas dalam keadaan mulutnya belepotan menyebut, “Yes”. Beberapa dari mereka mendukung situasi dengan tawa dan ejekan untuk memanas-manasi kedua teman mereka tersebut. Nuhera tersenyum. Setidaknya dia lebih suka diganggu dari pada tercuekin seumur jam pelajaran yang kosong di pagi senin. Sambil memungut sesuatu yang dilempar Ma’aji tadi, Nuhera mengintai langkah semberono laki-laki jakung itu yang masih liar di sekitaran bangku-bangku belakang. Kemudian dia melempar balas Ma’aji tepat di mukanya. Sekalian semua banat dan beberapa banin tertawa menyaksikan. Sedangkan beberapa banin lebih memilih geleng-geleng kepala tanda kecewa dan sok-sokan tak tega.

Ma’aji reflex berhenti dan tertawa seperti tak ikhlas. Dia mendekati Nuhera yang masih tertawa kecil sambil menatapnya dengan berjalan ke teman perempuannya yang bertubuh kecil itu. Semakin dekat jarak keduanya, dan Nuhera tetap tertawa tak peduli. Yang lainnya diam menebak yang akan terjadi. Hanya ketawa Nuhera yang masih terdengar, tapi perlahan mulai berhenti. Keduanya saling tatap seperti sedang jatuh cinta. Semakin dekat pula jarak Ma’aji. Tak kurang dari 25 senti. Posturnya jelas lebih tinggi. Ma’aji menyentuh kepala yang terbungkus jilbab putih segi tiga di depannya dengan dua jarinya. Satu detik, dan kemudian kepala Nuhera didorong pelan dengan sedikit keterlaluan sambil tertawa dan beberapa kata, “Lemparannya terlalu bagus tadi, Mba”. Yang lainnya kedengaran agak tertawa melihat tingkah teman mereka yang selalu santai itu.

Nuhera terlihat bejalan mundur dengan pelan dan tidak membalas sama sekali. Dia mundur sambil tersenyum kekanakan. Nuhera beraksen manja dan mengomel beberapa kata pula. “Kau terlalu dekat, kita bukan muhrim, Bang.” Seisi kelas social tertawa mendengar tutur itu. Ma’aji ikut tertawa kecil. Kedua tangannya dia kantong dalam saku celana abu-abunya. Kantong kanannya berisikan uang saku dua ribu rupiah dan beberapa receh yang dia kerincingkan. Kemudian dia mengabaikan kelanjutan adegan yang seharusnya semakin tegang seperti kebanyakan anak luar.

Ma’aji malah duduk di bangkunya.

Nuhera memasang ekspresi menang dan meremehkan. Dia menang. Ma’aji memang sudah kalah kalau sudah mengarah ke arah yang agak berbahas orang dewasa pemikiran anak manusia. Menurut Ma’aji, Nuhera satu-satunya banat di kelas itu yang jika dia rayu akan merayu balas. Bukan malah salah tingkah atau seperti kebanyakan anak luar yang kegatalan minta digaruk, seperti di film-film anak milenials. Temannya itu, Nuhera, adalah wujud dari perjuangan besar Ibu Kartini atas visi mensejajarkan derajat perempuan dengan laki-laki. Fikir Ma’aji.

Nuhera memang agak lebih dewasa menyikapi pergaulan antara dirinya dengan teman-teman baninnya. Jam pertama di hari senin itu, kelas social ribut dengan aksen Indonesia prahara wajar. Sebagai ruangan penampungan kisah sekolah bagi para santri yang tak tersentuh kultur kurang ajar antar lawan jenis, kelas social di pagi itu merangkum canda penghuninya.

Di kelas sebelah, kelas exact, beberapa kebiasaan selalu mirip dengan kelas social. Modal dusta santri-santri banin, bicara tentang kejadian lucu di asrama, dan perkelahian bohongan antara santri-santri banat dengan santri-santri banin. Santri-santri banat keseringan dibully. Suasana selalu meriah seperti pasar. Tidak peduli dengan jadwal pelajaran pertama.

Hari senin. Pelajaran pertama di kelas exact adalah matematika. Ustadz yang mengajarkan pelajaran rumit tersebut mulai kelihatan dari balik gorden jendela depan kelas mereka. Mendadak suasana tenang dan secepatnya ke bangku masing-masing. Beberapa santri yang duduk di belakang masih punya senyum bekas ketawa melihat ulah teman-teman mereka yang tiba-tiba diam semua.

Setelah pak ustad mengucapkan salam dan sedikit teori penjiwaan, beliau mulai membagikan soal. Menurut santri-santri itu, ulangan mendadak seperti ini tidak terlalu memacu kepusingan. “Ulangan seperti ini selalu dikerjakan dengan tidak total. Biasa hanya beberapa otak yang bekerja. Yang lainnya cukup menyalin. Prfect.” Itu kata salah seorang santri di antara mereka, dengan suara yang hanya berbisik. Pak ustad keluar menuju ruang guru. Beberapa saat kemudian, keadaan kembali mulai tidak tertata. Santri banat sibuk dengan rumus mereka. Sedangkan kebanyakan banin mulai angkat bicara soal hari kemarin. Tidak peduli dengan ulangan dan terlihat biasa saja.

Sejurus kemudian, tiba-tiba, sesosok terlihat dari balik gorden berlari masuk kelas. Seorang santri yang khawatir dilihat oleh pak Rahing di area sekitaran piket dengan setengah hidup lewat tanpa ketahuan. Muhaimin syam. Stylenya berantakan. Seragamnya belum disetrika. Rambutnya hanya disisir dengan jemari kiri. Dan dia malah lebih terlihat santai dengan ulahnya itu. Sikapnya cuek.

Serentak teman cowoknya memuji akan ulahnya. “Bagus…”. Dan kemudian sedikit tepuk tangan. “Baju putihku baru kering”. Muhaimin berkomentar. Dia mengambil posisi di bagian belakang, setelah sebelumnya menarik satu lembar soal ulangan di meja guru. Dia duduk di samping santri di belakang yang dari tadi hanya sedikit ketawa melihat ulah Muhaimin yang santai dengan keterlambatannya. Sementara banatnya seperti tidak peduli pada hal kurang ajar demikian.

Muhaimin memperhatikan beberapa banat yang dia anggap bisa dimintai jawaban. Banat-banat itu terlihat begitu serius dengan angka. Muhaimin tidak mau pusing dengan soal yang materinya tidak dia mengerti sebelumnya. Maka dia lebih memilih untuk meminta jawaban. Beberapa angka sudah dia lihat berputar diatas kepala beberapa kalkulator sok cuek itu. Agak segan minta jawaban. Ditambah suasana yang tetap kacau oleh banin-banin yang lain. Sebuah selingan yang selalu terjadi adalah, Muhaimin, yang posisinya selalu duduk di bagian belakang, akan terpatok dan singgah fokusnya pada sosok banat yang posisinya paling aman dari para banin. Sosok itu berwajah seri. Dari belakang, Muhaimin tidak bisa melihat muka. Hanya punggung yang bercerita tantang satu orang santri wati berwajah manis, putih, dan hanya sesekali tersenyum. Santri wati ini seperti sajak-sajaknya. Sikapnya selalu calm diantara ketawa. Gelak manisnya tak terlihat lebih dari sopannya saat bertutur. Itu pun hanya sesekali. Namun, seperti tidak ada apa-apa, Muhaimin malah abai. “Fikiranku, apa sih.” Katanya tak sopan. Tak sopan dengan kagumnya yang dia abaikan setiap hari.

Muhaimin memang cuek terhadap hal yang berbau hasrat. Fikirnya selalu dia abaikan jika sudah tak sengaja tatapnya singgah pada sosok itu.

Muhaimin tak peduli sekalian dari yang dia rasakan selama dua tahun terakhir terhadap perempuan bermuka seri. Dan dia berfikiran, “Jika rasanya ditulis oleh seorang penulis dalam sebuah fiksi anak luar, maka sebaiknya tulisannya tak terlalu panjang menghabiskan halaman.” Beberapa saat setelahnya, dari pintu masuk, Pak Ustadz kembali ke kelas tanpa menyadari tambahan jumlah santri di dalam kelas itu.

“Selesai?”

Tidak ada yang menjawab. Hanya terdengar suara samar seperti keluhan.

“Silahkan ditanyakan yang dirasa susah!” Ustadz memberi intuisi dengan murah. Beberapa banat mulai menanyakan persoalan. Baninnya mendengar dengan baik, setidaknya mereka terlihat seperti itu. Ustadz menjelaskan di papan tulis. Menulis dengan cepat tentang teori kossinus dan beberapa matematika dasar. Beliau selalu mengatakan bahwa ini mudah karena sudah sering diulang. Padahal para santri merasa kesulitan. Untuk kesekian kalinya sebuah ulangan yang tak sempat selesai hingga jam kedua.

Pak Ustadz keluar kelas dengan agak terlihat pusing. Mungkin sedang sakit kepala. Situasi segera ribut kembali. Mereka menyambung kemeriahan mereka yang sempat tertunda tadi.

Sebuah kertas terserak dibawah bangku Muhaimin. Terinjak sepatu dan tertindis kepulan debu. Selaras dengan sakit kepala pak ustadz, kertas itu terlihat lebih sakit kepala dengan keributan mereka saat Pak Ustadz sudah jauh dari pintu masuk kelas. Teman duduk Muhaimin memungut kertas itu. Dia meremuknya secara sembarang dan melempar salah seorang banat, tapi tak kena. Mereka mulai kembali larut dengan baku lempar kertas karena lemparan yang lebih dulu dimulai oleh santri-santri banin kepada santri-santri banatnya. Kisah ketawa yang berkepanjangan.

“Kau mungkin menyukai seseorang. Tapi sekarang bukan waktu yang baik untuk itu. Kau harus tahu dulu dirimu seperti apa. Dan hasilnya akan seperti apa.”

Secarik kertas yang sudah sangat kusam terletak begitu saja di depan kelas. Kertas itu bertuliskan nasehat pandai yang mungkin ditujukan untuk seseorang teman. Sepertinya sudah sejak beberapa hari pesan dalam kertas itu tak terbaca.

Sejak tiga hari dari hari terakhir sekolah di semester ganjil, Muhaimin agak rindu dengan kelasnya. Beberapa libur serasa lebih mirip dunia terbalik oleh Muhaimin. Dia memungut kertas kusut itu dan berjalan masuk kelas di pagi yang sejuk itu. Dia membaca isi kertas kusut di tangannya sudah sebanyak empat kali. Fikirnya setuju saja dengan pesan bertulisan miring itu. “Sepertinya tulisan seorang banat”, fikirnya. Belum ada satu santri pun yang mendahului Muhaimin di hari pertama sekolah. Kecuali seorang guru piket. Bangkunya dia bersihkan dengan kertas kusut di tangannya. Debu bangku itu cukup banyak. Sekeliling ternyata memang didominan oleh harum debu yang sudah bermalam beberapa hari.

Rambut sapu ijuk, Muhaimin julurkan ke sudut langit-langit kelas. Beberapa laba-laba ruangan menghindar dan terjatuh. Salah satu jendela ia buka. Dia merasakan tiupan udara pagi dari arah timur laut. Dia menyukai sejuk. Sesaat dia menghela napasnya yang hangat. Selanjutnya satu-persatu kursi dia naikan ke setiap meja agar lebih mudah menyapu lantai.

Perlahan.

Dia mendengar derap langkah beberapa pasang kaki yang ribut menuju kelas. “Teman-teman”, fikirnya. Semakin dekat, namun ternyata berbelok ke kelas social.

Sesaat kemudian yang muncul di ambang pintu ternyata hanya satu orang. Sosok itu terus masuk dan meletakkan tasnya di atas meja yang sedang tertindis bangku yang tadi dinaikkan oleh Muhaimin agar lebih mudah menyapu lantai.

Muhaimin menengok. Si wajah seri.

“Astagfirullah.” Ucapan itu tidak terlalu terdengar spontan sebenarnya. Dalam fikirnya terlalu pagi untuk sebuah fitnah kaum perempuan. Kenapa malah sendirian masuk kelas?, fikirnya.

Tapi ternyata si muka seri mendengar gumaman istigfar Muhaimin yang reflex tadi. Dia merasa tersinggung. Muka seri kemudian mematung di tempatnya. Terus berdiri sambil menatap ke arah Muhaimin. Dia menunggu kehadirannya ditanggapi. Apalagi istigfar barusan itu serasa tidak pada tempatnya, fikir si wajah seri. Hening. Ujung jilbab panjang milik muka seri tertiup angin yang agak kencang dari arah jendela kelas yang agak terlalu terbuka. Sekaligus sejuk yang cukup menampar wajah keduanya. Muhaimin menyadari sesuatu. Dia melihat santri banat yang dari tadi tak disapanya itu berjalan ke arahnya. Kemudian dia menghentikan sapunya. Menyaksikan apa perlunya teman kelas yang satu ini.

Secarik kertas kusut di atas serakan debu. Kertas yang tadi dipakai Muhaimin menyapu debu bangkunya itu, dipungut oleh si wajah seri. Kemudian berbalik dan menyapu debu bangkunya dengan kertas itu pula. Muhaimin melanjutkan sapunya. Dia kira banat yang satu ini ingin macam-macam.

Muka seri merentangkan kertas kusam yang agak kusut itu. “surat ternyata. Ini punyamu?” Tak ada tanggapan. Muka seri menggigit bibir. “Hey!” “A…?” Muhaimin mendongak. Muka seri agak menghela nafas. Tapi diulangnya pula pertanyaannya. “Ini punyamu?” suaranya agak lebih rendah dari yang pertama. “Mmm…” Muhaimin baru pertama kali diajak bicara oleh perempuan ini. Dan saat ini, dia hanya menggigit dalaman bibir tanpa satu ucapan penyambung gumaman “M”nya.

Sekejap Muhaimin hanya seperti ingin mengucapkan sesuatu. Dua detik. Pada akhirnya tetap tak ada kata yang dia ucap. Kecuali sebuah gumaman yang agak panjang tadi. Dan kembali menyapu. Sial. Muka seri tersenyum. Sosoknya yang pendiam itu malah pertama kali dicuekin oleh satu sosok yang setahunya, baik hati. Sejak kelas satu sosok ini memang selalu cuek dengan hal-hal yang tidak penting. Dia tidak heran. Wajah seri memainkan kertas kusut di tangannya. Dia terlihat melangkah. Sesaat terlihat begitu tenang nan ayu, dia melangkah beberapa langkah. Kemudian punggungnya dia bungkukan meletakkan secarik kertas kusut itu di tempat semula, dimana dia ambil sebelumnya. Padahal bagian itu sudah tersapu bersih oleh Muhaimin yang sudah hampir sampai di depan pintu.

Muhaimin melihat ulah santri banat ini. Dia tidak tahu harus melarang atau apa. Santri banat yang tidak akan pernah bisa dia sapa itu melakukan hal yang cukup kurang ajar kepadanya. Fikirnya, dia salto saja tiga kali di tempatnya memegang sapu saat ini. Mulutnya agak terbuka, ekspresinya terlihat kesal ke arah santri wati berparas manis ini.

Si muka seri tertawa kecil dibawah tunduknya sambil beranjak ke bangkunya. Dia tertawa kecil. Ketawanya itu tidak bersuara. Hanya sengaja dia posisikan sebagai sebuah moumen yang agak menyenangkan menurutnya. Ternyata sikapnya juga bisa kurang ajar seperti itu.

“Ternyata dia bisa terlihat lebih santai dari sikap pendiamnya setiap hari sejak dua tahun.” Fikir Muhaimin. Muhaimin masih melongo. Dia kemudian kembali ke bagian yang sudah bersih sebelumnya, hanya untuk menyingkirkan sebuah kertas kusut.

Beberapa teman mereka sudah datang. Samar terdengar saling teriak dari luar. Ketawa dan saling kejar, dan mulai masuk kelas menghamburi lantai bersih.

Muhaimin tetap santai.

Ada satu kata yang dari tadi ingin diucap Muhaimin disela gumaman “M” panjangnya. “Bukan.” Kertas itu bukan miliknya. Hanya satu kata, “Bukan”. Dan pertimbangannya adalah, kata tersebut bisa memancing kelanjutan percakapan. Percakapan tidak wajar. Itu menurut seorang Muhaimin. Maka yang keluar hanya gumaman. Dan hasilnya, dia merasa dirinya barusan sedang diletakan dibawah sepatu. Sedikit serasa lebih bodoh.


Di kelas sebelah, Ma’aji mengeluarkan sampah-sampah dari laci mejanya. Beberapa kertas bekas cakaran ekonomi dia buang ke tempat sampah bersamaan dengan debu-debu kerdil. Dia melihat Nuhera sedang menikmati panorama pagi di luar jendela. Gadis itu tak ikut turun bersama yang lain. Dia lebih suka menunggu guru pertama di hari pertama. Santri wati itu hanya sendirian banat diantara senyapnya beberapa banin. Ma’aji tak menganggu suasana pagi teman perempuannya itu. Dia lebih suka memperhatikan. Mungkin karena sejak beberapa hari tak masuk sekolah, ini pertama kalinya lagi. Seperti hari pertama.

Nuhera berbalik. Dia mendapati sepasang mata yang sesekali tunduk dan sesekali melihat ke arahnya. Santri penyabar itu pun tak berniat buruk merusak niat baik yang tak sempat sempurna itu. Kira-kiranya, niat menahan pandangan dari sepasang mata Ma’aji, mungkin karena rindu berlawanan dengan hal baik menurut agama, yakni menjaga pandangan. Atau mungkin sebuah rencana jahil yang seperti biasanya, fikir Nuhera. Nuhera. Gadis penyabar yang tak pernah marah.

Selalu cerdas menimpali rayuan Ma’aji. Dia bukan santri banat yang bodoh. Dia selalu lebih suka kertas daripada papan tulis. Menurutnya, karena kertas lebih serasa memeluk. Hanya boleh terbaca oleh diri sendiri atau orang tertentu seperti guru jika sedang memeriksa catatan. Tidak seperti papan tulis yang selalu terbuka untuk semua. Nuhera selalu lebih memilih terdiam daripada bicara banyak. Seperi kertas-kertas yang sering dia jadikan media marahnya. Menulis sajak kebenaran, memasak kata-kata yang belum sempat basi, dan kemudian meremuknya. Dan terserak tak tahu dia lempar ke mana di setiap sepinya. Jadilah kertas-kertas itu kusut.

Kertas kusut. Ibarat masa remaja kebanyakan generasi. Cerita kenakalan membuat pribadi mereka menjadi agak berantakan. Kusut. Namun, selama kenakalan itu wajar, kertas kusut pun bisa saja berguna sesekali. Mungkin sebagai pengelap debu-debu bangku setelah libur sekolah. Ataukah sebagai bahan lemparan untuk saling bercanda. Kau akan terlalu sering melihat ribuan kisah di luar sana tentang kisah percintaan beberapa atau sepasang anak remaja. Tentang sebuah praktek mereka yang mewakili ungkapan “I love you”. Maka, terkisahkan sikap, Layaknya sebuah kertas tak terpakai, saat dunia sibuk dengan kisah pacaran sepasang angsa, serta generasi jelata meniru, Nuhera tak suka sajak sang penulis dan memilih seperti kertas-kertas yang sering diremuknya.

“Bisu di tengah pernyataan mereka. Diam tak tersampaikan oleh awan, hingga tak ada hujan di bulan Juni. Demikian kata Pak Sapardi. Dan dia tetap seperti itu tanpa kesedihan ataupun keberatan, selayaknya secarik kertas yang berisikan sajak yang tak sempat terbaca. Kertas yang terlalu cepat mengusam.”

Selalu kertas. Dan tak pernah sebuah ungkapan. Sejatinya hanya kerendahan diri. Dan tak pernah sebuah pengertian. Maka lebih baik diam daripada terburu-buru seperti yang lainnya, tutur benak Nuhera. Dari setiap kelanjutan adegan kisah yang sama-sama saja di luar sana, Nuhera tak mau ribut dengan sikapnya yang berbeda. Mengabaikan rasa dan sama sekali tak membenci. Silahkan tertawakan sikapnya dalam renungan. Karena dia pun tak peduli dengan hal itu. Kau akan lebih menertawakan Muhaimin. Dia keterlaluan. Bahkan alasannya pun tak akan kau ketahui. Coba bertanya pada kertas kusut tentang dirinya.

“Kenapa tak larut pada cinta?” Nuhera bertanya di sebuah oase senyap. “Entah, saya merasa hal seperti demikian tak akan lebih menyenangkan dari sebuah kertas kusut yang kita jadikan filosofi”. Ma’aji menjawab begitu saja. Nuhera membenarkan, dia sedikit tertawa. Tapi dia masih ingin mendengar alasan lain. Dua detik. Ma’aji menatapnya. “Apa?” Nuhera bertanya. “Lebih baik menikmati rasa jika memang itu ada. Karena rasa ya rasa. Bukan kata-kata. Coba bayangkan, jika kuungkap saat umurku masih 18, maharku masih kertas kusut ini. Mau? Jadi lebih baik kutunggu sampai beberapa tahun.” Dia tersenyum setelah tuturnya. Terdengar bercanda saja. Tapi Nuhera tertawa. Bahkan sekali lebih terbahak hingga aurat suaranya terdengar kafilah.

Ai Clavis~

comments powered by Disqus