preloader
  • Beranda
  • Langit selalu kelabu, hitam pucat

Langit selalu kelabu, hitam pucat selalu menaungi hari-hari di mana aktivitas sedang berlangsung. Tidak ada kuning apalagi merah ke emas-emasan

blog-thumb

Langit selalu kelabu, hitam pucat selalu menaungi hari-hari di mana aktivitas sedang berlangsung. Tidak ada kuning apalagi merah ke emas-emasan.

karpet bolong sebagai permadani ternyaman di dunia untuk sekedar rebahan, atau banner bekas yang diperuntukkan bagi kaum-kaum jalanan sebagai atap rumahnya.

Kini, banner pun diperuntukkan bagi mahasiswa seperti aku, yang berpindah dari satu banner ke banner yang lain.

Kadang setelah dari banner yang bolong aku mendapatkan kasur yang tergolong nyaman untuk sekedar rebahan atau istirahat.

Aku tidak akan panjang lebar menceritakan tentang hiruk yang pikuk dan pikuk yang kikuk di semester tiga ini kepadamu. Itu sangat membosankan fia, aku pun bosan dengan cerita yang sudah menjadi sarapanku, atau bahkan selimut tidurku yang selalu aku lupakan ketika hendak tidur.

Ya, aku memang tidak punya selimut.

Bahkan atap pun aku tidak punya. Kali ini, di hari yang kelabu dan akan selalu kelabu. Aku ingin bercerita tentang apa yang telah aku alami di alam mimpi tidur si angklung .

Kurang menarik rasanya bilamana aku menceritakan sesuatu yang real tanpa ada unsur fiksi di sela-sela cerit, terlalu kaku dan sifatnya monoton. Menjadikan bosan untuk dibaca apalagi didengar fia.

Aku berharap kamu masih terus membaca dan sudi untuk membuka lampiran ini :)

Pagi lembab, tidak ada cerita cahaya fajar menerobos jendela, menerobos sela-sela gedung, atau pun menerobos gorong-gorong yang tidak pernah tersentuh cahaya. Ayam jago yang terdengar parau suaranya, dan masih terkantuk-kantuk ketika mengayunkan kepalanya yang seirama dengan suaranya (kukuruyuuuukkk).

Anak-anak sekolah dasar yang enggan mandi dan lebih memilih duduk manis sambil ditemani teh hangat sembari menyaksikan kartun kesayangannya. Hari itu memang sangat berat fia. Semua aktivitas terhenti di atas kasur. Kalau pun berjalan, mereka memaksakan diri untuk keluar dari zona nyaman.

Sangatlah nyaman. Sekarang, aku sudah tidak heran lagi kenapa kaum kolong jembatan selalu menikmati tidurnya walaupun hanya beralaskan kardus.

Aku sudah merasakannya fia, dan itu sangatlah nyaman ketika aku mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Pelajaran untuk kita adalah jika kita ingin mengenal atau mengetahui semua yang ada di muka bumi ini, bukalah kedua mata kita. Jangan sekali-kali memandang apa yang kita tidak suka dengan satu mata. Itu membuat kita sempit akan sudut pandang, dan yang terjadi hanya stigma-stigma rancu yang ada di benak kita.

Di dunia ini tidak ada teori yang sampai final, fia. Seperti segala teori ilmu yang telah kamu pelajari dari kecil sampai sekarang, katakanlah karl marx dengan teori marxismenya yang agung. Begitu juga dengan apa yang terjadi di sekeliling kita fia. Segala hal yang dilakukan manusia itu tidak akan ada akhir atau finalnya, karena itu sifat manusia, yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada dan sudah didapatkannya.

Kamu tahu sendiri fia, bahwa kata-kata telah meluber di dunia ini. Tapi aku menyukai setiap kata-kata. Ya, kata-kata membuatku ada. Aku ada karena aku berkata di setiap senja di akhir pekan sembari melukiskan goresan senyummu diantara semburat senja..

Hari itu aku bermimpi, mimpi yang bukan mimpi pikirku. Mimpi yang seperti petunjuk harta karun terbesar dalam hidupku, mimpi yang menunjukkan akan mulainya petualangan besar dalam hidupku. Petualangan fantasi dari lembah ke lembah ilmu, menyusuri hutan-hutan kearifan, dan sesekali aku berlabuh di telaga hafalan hanya untuk melepas dahaga benakku. Kamu tahu sendiri fia, perjalanan hidup tidak selalu mulus dan tidak terus menerus rumit. Kadang aku tersandung jauh sampai memasuki lembah yang penuh duri kegelapan. Dengan tergopoh-gopoh aku terus berusaha kembali ke tempat di mana tadi aku tersungkur lelah. Sesekali aku tertidur dengan duri yang masih menempel di sekujur tubuhku. Ya, kamu benar fia. Duri itu adalah duri kemalasan yang selalu menghantui di setiap perjalananku menuju puncak mimpi fia..

comments powered by Disqus