

Oleh: Muhammad Syamsul Aimmah
Setelah menyelesaikan membaca buku Dhani yang diterbitkan Mojok tahun 2015 silam, sampai saat ini saya tidak pernah benar-benar yakin kalau buku itu ditulis oleh tangannya sendiri. Saya setengah percaya setengah tidak. Bukannya apa-apa. Pasalnya saya tidak tahu banyak mengenai Arman Dhani.
Saya tahu Arman Dhani setelah lama mengenal situs Mojok. Hanya dari itu. Dan karenanya juga sering kali saya tertukar yang mana Arman Dhani yang mana Edward S. Kennedy. Padahal, setelah membiasakan dan menghapal seperti apa postur tubuh Dhani, ternyata memang berbeda dengan Edward.
Selain dari Mojok, saya mengenal dan menilai Dhani dari postingannya di Instagram. Di Instagram, postingan-postingan Arman Dhani sungguh terkesan suram. Sangat suram. Tentu penilaian itu datang bukan tanpa alasan. Sebagai seorang anak yang besar di pondokan, saya akan menilainya demikian. Dhani sering kali memposting gambar atau fotonya yang sedang berpose di sebuah toko jamu atau minuman keras. Bukan hanya itu, ia juga memosting pose di hadapan banyak botol minuman tak lazim bagi kaca mata santri bersama teman-temannya. Dan karena hal itulah saya menganggap Dhani sebagai manusia yang urakan dan hidupnya jauh dari Tuhan sebelum akhirnya saya menyesal karena telah salah menilainya.
Saya ingin menceritakan terlebih dulu alasan mengapa saya membeli bukunya Arman Dhani. Saat itu saya sedang ngebet banget ingin membeli buku. Tapi di sisi lain saya hanya menyimpan sedikit uang. Akhirnya saya pergi ke Gramedia dengan modal uang seadanya. Karena hal itu, di Gramedia, saya bingung sekali buku mana yang akan saya pilih dan dibawa pulang. Pertama, pilihan saya jatuh pada buku baru Puthut EA, Para Bajingan yang Menyenangkan. Kedua, pilhan saya jatuh pada bukunya Iqbal Aji Daryono. Dan ketiga, saya menemukan buku Haruki Murakami. Untuk pilihan ketiga, saya urung membelinya karena tidak ada harga yang tertempel di buku tersebut. Saya bingung harus membeli yang mana. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak memilih ketiganya sebelum pada akhirnya saya menemukan buku dengan sampul berwarna hijau. Ya, itulah buku Arman Dhani, Dari Twitwar Ke Twitwar.
Saya tidak memahami betul apa artinya twitwar. Karena hal itu juga saya meragukan apakah buku ini akan menarik untuk dibaca dan dinikmati atau mungkin malah sebaliknya. Sejahat itu penilaian pertama saya saat akan membuka dan membacanya. Oleh karena itu, mungkin, kejahatan lahir atas ketidaktahuan seseorang terhadap sesuatu.
Dari Twitwar Ke Twitwar lahir dari tiga puluh kumpulan artikel Dhani mengenai persoalan-persoalan kontemporer di linimasa. Ketiga puluh artikel itu telah diterbitkan di media online yang berbeda-beda. Media online itu di antaranya adalah Selasar, Mojok, Rappler, Geotimes, Midjournal dan Kandhani. Yang terakhir itu adalah salah satu dari blog yang dimilikinya. Tiga puluh artikel Dhani membuat bukunya menjadi tebal, sehingga terlampir sebanyak 255 halaman.
Buku itu dibuka dengan tulisannya berjudul Atas Nama Tuhan. Sebuah tulisan Dhani yang menanggapi persoalan kasus penyegelan masjid Ahmadiyah yang dilakukan oleh pemerintah kota Bekasi lewat surat perintah dari Sekda Pemkot Bekasi pada 8 Maret 2013. Penyegelan tersebut memaksa 36 jemaah Ahmadiyah yang tengah berada dalam masjid terkurung. Masjid yang sudah berdiri sejak tahun 1993 itu harus rela dipagari dan tidak diizinkan untuk digunakan terkait ritual keagamaan.
Dari sekian banyak tulisan-tulisan Arman Dhani dalam buku ini, tidak satupun di antaranya miskin data. Dalam tulisan berjudul Atas Nama Tuhan, misalnya, Dhani secara lengkap menulis data tentang kejadian serupa di tahun berikutnya. Ia menulis data beberapa kejadian yang sama dalam hal kekerasan sosial semisal penutupan, lagi-lagi masjid Ahmadiyah yang berada di Jatibening, Bekasi, yang dilakukan oleh kelompok intoleran. Hal itu Dhani lakukan semata-mata bukan hanya ingin membubuhkan data. Tapi dalam masa pertama kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, Dhani mencatat pernyataan SBY yang berkomitmen untuk menyelesaikan dan mengawal kasus pelanggaran hak asasi manusia. Karena itulah, Dhani sepertinya ingin membuktikan kalau SBY tidak menepati janjinya. Bukan hanya ingin membuktikan, tapi juga menagih.
Dari sekian banyak tulisan Dhani yang terkumpul, tidak ada satupun tulisannya yang miskin data. Dan itu membuat saya berdecak kagum. Bagi saya, siapapun yang ingin belajar menulis, khususnya artikel, maka berkaca pada tulisan-tulisan Arman Dhani adalah tindakan yang tepat.
Selain data–ini yang membuat saya menyesal karena di awal saya menilai hidup Dhani jauh dari Tuhan–ia juga membubuhkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Seperti di tulisannya yang berjudul “Islam Mana yang Anda Pilih?” Dalam tulisan tersebut Dhani menanggapi persoalan keberagaman dalam keagamaan. Kata Dhani, Rasulullah telah mewanti-wanti pada umatnya kalau kelak akan ada 71 golongan dalam Islam. Dan Dhani tidak memberikan penjelasan atas 71 golongan yang ia maksud. Tapi ia memberikan pilihan atas kekerasan sosial, khususnya keberagaman pemahaman keagamaan yang sering kali terjadi. Dhani menulis sebuah penawaran baik: apakah Anda akan memilih Islam versi Ja’far Umar Thalib yang siap berjihad melawan pluralisme dan keberagaman atau bergabung dengan Islam versi Kanjeng Nabi Muhammad yang diajarkan Allah dalam petikan Surah Al-Hujurat ayat 9 berikut.
Wa in thaifataani min al-mukminina ‘qtataluu fa-aslihuu bainahum
Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.
Gaya penulisan Dhani ini, seluruhnya, bagi saya, dipengerahui oleh gaya penulisan Gabriel Garcia Marquez (Gabo) yang menurutnya tidak menggebu-gebu dalam menyampaikan sesuatu. Tapi justru mengajak untuk berdiskusi. Sebab seperti pengakuannya sendiri, Dhani memang mengidolakan Gabo. Dan buku ini masih sangat relevan untuk dikonsumsi.
Untuk Arman Dhani, maafkan segala kekhilafan saya. Sungguh, buku yang justru saya beli karena kebingungan ini tidak sedikit pun membuat saya merasa menyesal. Tapi sebaliknya, membuat saya menjadi amat bahagia karena pemikiran saya akhirnya menjadi terbuka luas.