

Oleh: Wildan Fauzy
Mona duduk disampingku, aku duduk terpaku menikmati pagi ini, mulutnya seakan-akan akan terbuka, dan dengan rentan waktu sekian detik mulutnya mengeluarkan kata-kata yang sangat sering terdengar di telingaku, lantas ia berkata, “pig, bagi rokoknya dong?”, dengan muka mirip penanam modal sebuah mega proyek aku berkata, “kalo mau ngamen dulu dong?”, mona dengan muka berseri-seri tersenyum sambil sedikit tertawa, ia mulai mengocok-ngocok bungkus rokok sambil bernyayi lagu yang biasa dibawakan oleh pengamen di angkot hijau.
Angin berhempus kencang, daun-daun mulai berjatuhan, udara dingin mulai menhampiri di tubuhku yang tak berbusana, langit sedikit demi sedikit mulai redup, aku masih duduk terdiam bersama mona, sepertinya hujan akan turun hari ini, kopi yang tersisa hanya ampas hitam mengendap di cangkir, perutku berderu serasa urat-urat dalam perut melilit begitu kuat, lapar terasa, tak ku temui sepeser lagi dalam kantong, terpaksa aku harus meniru gerak tubuh seperti mona, tangan kanan mengelus-ngelus perut, ahh sial, perutku tak indah untuk dielus-elus, hanya tulang berbalut kulit dan secercah daging, rokok kretek terasa hambar ketika dihirup oleh bibir ini, hari ku yang indah, kopi yang legit bercampur pahit, wangi cengkeh yang harum, lenyap seketika oleh suara perut yang tak bisa diberhentikan sepihak seperti pemutar musik ini.
Tak ada gunanya begumam tentang dunia ini bahwa semua ini tidak adil, tentang seorang yang berkecukupan secara materi bahkan melimpah, masih mangeluh karena tidurnya tidak nyenyak selalu terbayang-bayang hari esok bagaimana? Melihat tetangganya yang sederhana bahkan bisa dibilang sangat tidak berkecukupan bisa hidup dengan tentram, tanpa memikirkan harta yang melimpah akan berkurang oleh hari esok, batin yang tersiksa oleh pengkhianatan dunia yang mengutuk berlebihnya materi, tidurnya selalu diselimuti tentang hari esok, ketika malam melihat rumah tetangganya lampu redup bertanda sudah tidur nyenyak menikmati nikmat tidur yang tidak dijual secara bebas.
Tetangga yang hidup serba kekurangan, bangun dari tidur nyenyaknya melihat meja makan yang kosong hanya dipenuhi perabotan kotor, tak ada tempat cuci piring dibiarkan terlantar di meja makan, anaknya yang kecil merengek ingin makan, anak yang besar ingin membeli barang yang teman-temanya miliki, melihatlah ia kesebelah tetangganya yang melimpah secara materi, haha, mona bercerita ketika kami berdua sedang lapar, aku hanya tertawa berbahk-bahak mendengarkan tentang si miskin dan si kaya, mona pun ikut tertawa setelah selesai mencerita, seketika hening ketika mona berkata, “lantas pig, kau mau mengeluh bahwa dunia ini tidak adil, hidup ini sia-sia”, dalam hati sunggu aku terguncang mendengar pernyataan dari mona, aku bertanya padanya, “lantas buat apa kau hidup, mona?”, mona tertawa berbahak-bahak tangan kirinya menepuk-nepuk paha dan tangan kananya masih memegang rokok kretek yang hampir habis, tawa tak henti-henti sampai dia mulai batuk-batuk.
Hujan turun deras, membasahi tanah yang masih lembab berkat hujan tadi malam, sepertinya akan banjir, tetapi tidak di kandang babi, terletak di dataran tinggi, tak berani air mengalir dari atas ke bawah, mona berhenti tertawa, dia menjawab pertanyaanku, “kita hidup sekarang ini hanya mengerjakan kesia-sian”, tanpa pikir panjang aku tambah terheran-heran, “lalu, mengapa kau masih hidup?”, aku bertanya dengan nada sinis, “jika aku bisa memilih, aku berharap dikembalikan ke rahim ibuku dan akan ku muncahkan kembali sperma ayahku dari rahim ibuku”, mona menjawab dengan perasaan bangga, “pada dasarnya hidup di dunia hanya ada dua”, aku semakin penasaran dengan yang diucapkan oleh mona, “apa itu yang dua?”, “pig, manusia di dunia ini tidak lebih dari dua perkara yaitu tentang menerima dan memberi selebihnya hanya tafsiran atau omong-kosong manusia tentang kehidupan”.
Mona bertanya kepadaku, “apakah kau akan pasrah pada kesia-sian atau berjuang untuk kesia-sian?”, aku berpikir sangat keras menjawab pertanyaan mona, pertanyaan macam apa itu, dengan penuh keyakinan aku menjawab, “aku akan berjuang untuk kesia-sian”, mona tersenyum lebar, “ayo, kita cari makan untuk menyambung perjuangan kesia-sian ini!”, aku mulai tersenyum dengan ucapan mona tentang masalah kesia-sian, “ayo, hidup sia-sia”, dengan nada suara setengah teriak melawan suara gemurah hujan yang belum juga reda, “mencari makan kemana kita?”, mona bertanya, “pokoknya kita jalan dulu masalah kemana dan dimana? Kita pikirkan saja nanti”, bergegas kami berdua berdua berjalan melewati gang-gang sempit, hujan menetes begitu banyak membasahi kami berdua, tak terasa dingin, rasa lapar bisa kami tahan, berjalan mencari penyambung perjuangan demi kesia-sian, tak ada kata pasrah pada kesia-sian, hanya ada perjuangan untuk kesia-sian atau kita mati karena kesia-sian sekarang, besok, mungkin lusa tak ada jaminan, hidup kesia-sian.