

Oleh: Falah m.
“Nak, belajarlah yang tekun, sekolahlah dengan setinggi-tingginya; jangan seperti bapakmu, jadilah orang besar!”. Kalimat yang sering dilontarkan orang tua kepada anaknya ketika mereka menyerahkan jenjang pendidikan lanjutnya ke sebuah lembaga. Terkesan sepele mungkin, tapi kalimat itu adalah bagian dari sebuah pengalaman hidup agar pengalaman yang lalu tak ditayangkan kembali. Manusia tidak lepas dari sejarah, manusia akan menceritakan sejarah kejayaannya jika masa lalunya gemilang. Sebaliknya, manusia akan memberikan pesan singkat jika masa lalunya suram, seperti itulah tabiat manusia.
Sekarang aku duduk di bangku perguruan tinggi, sebetulnya semua orang berhak menduduki bangku ini, toh presiden yang terpilih adalah yang menjanjikan pendidikan gratis, kesehatan gratis agar terciptanya bangsa yang cerdas lagi sehat sentosa?! Tapi kenapa masih banyak yang putus sekolah hanya gara-gara tak sanggup membayar spp atau ukt, sehingga yang berhak mendapat pendidikan adalah orang yang punya uang. Sedangkan dalam undang-undang dasar 1945 pasal 31 ayat 1 berbunyi “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”.
Negeri ini memang negeri dongeng, kepala negara selalu mendongengkan rakyatnya dengan cerita yang sangat indah, lebih indah dari pada surga. Kami berkhayal sambil terus khusyuk mendengarkannya, kemudian kami terjebak di kolong-kolong jembatan ibu kota, kami dijuluki sampah ibu kota, membuat pemandangan kota tak sedap, bau badan kami lebih menyengat dari pada polusi kendaraan mewahnya, dan kami mati tanpa pernah merasa terdidik oleh bangsa pemilik 1001 pendidik.
Dulu Soekarno berkata bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”. Perkataan ini cocok karena waktu dulu adalah masa penjajahan, ketika Soekarno berkata seperti itu maka warga Indonesia berbondong-bondong ingin menjadi pahlawan agar selalu dikenang jasanya. Dan mungkin jika soekarno hidup di zaman sekarang perkataannya akan menjadi “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai warga negaranya agar mendapatkan pendidikan yang layak.
Secara tidak langsung pemerintah memberantas bahkan membunuh generasi pemikir-pemikir bangsa di masa depan dengan mahalnya pendidikan di negara ini. Alangkah kejam dan teganya bangsa yang dulu kami perjuangkan, sekarang membunuh kami secara perlahan oleh tangan-tangan mereka yang selalu memegang perut dan kelaminnya sendiri. Mari satukan suara agar semua warga negara indonesia mendapatkan hak-hak yang dulu pernah diperjuangkan munir dan lainnya agar indonesia menjadi bangsa yang dicita-citakan.