

Tulisan ini dibuat untuk merawat ingatan, diskusi rutinan Rayon Adab dan Humaniora.
“Siapa itu Pramoedya Ananta Toer”
Pemantik : Wildan Fauzy
Moderator : Sakata Gipal
Penulis Resume : Gipal, Janjan, Aldi.
Lokasi : Taman Kampus UIN Bandung
Waktu : Kamis 15 Maret 2018
Kala itu sore menjelang malam hujan rintik-rintik turun dengan malu, membawa angin yang cukup membuat bulu kuduk sedikit terbangun dari lubang pori-pori disekujur tubuh, segalas kopi dan beberapa batang rokok menjadi atribut disekeliling pertemuan yang hanya membuang-buang waktu, dimana kebanyakan orang tiduran dengan nyaman diatas kasur sambil bermain sosial media atau game mobile legend.
Suasana taman kampus tercinta mulai sepi, mahasiswa mulai berhamburan untuk meninggalkan tempat yang cukup megah ini, beberapa orang masih bertahan untuk sedikit berbincang tentang sesuatu yang membuatnya merelakan waktu yang berharga untuk menikmati waktu yang nyaman untuk bermalas-malasan atau bagi yang mempunyai pasangan waktu yang pas untuk berduaan, tetapi apalah daya, kami berlima masih saja disini, lalu salah satu diantara kami menanyakan “Siapa itu Pramoedya Anata Toer?”.
“Cerita tentang kesenangan tidak menarik, itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini”, ucapan Nyai Ontosoroh kepada Minke, dan terasa sangat nyata. Sebenarnya yang dimaksud dengan ‘cerita’ itu dalam bukunya Bumi Manusia, adalah sebuah karya sastra berbentuk novel dimana Nyai Ontosoroh yang sedang memperkenalkan cerita-cerita karangan orang Eropa dan orang Melayu tentang seorang gundik.
Kehidupan ini tak lepas dari masalah, sekecil apapun masalah tetap saja masalah dan harus dibereskan. Orang dewasa mungkin sering berkata ‘anak kecil gak banyak pikiran, yang mereka tau hanyalah main saja’, tapi di balik itu semua sebenarnya anak kecilpun mempunyai masalah atau pikiran, seperti ingin mempunyai mainan yang keren seperti temannya tapi orang tuanya tidak membelikannya, atau ingin unggul dalam segala permainan, juga tak ingin kalah dari teman-temannya, itu adalah sebuah masalah bagi anak kecil dan bagusnya mereka tetap tersenyum.
Kutipan dalam novel Pram itu sangat terasa dalam kehidupan nyata, sehingga membuat orang bahwa kesenangan hanyalah angan-angan, dan dari kutipan itu juga kita bisa belajar bahwa jika kita hidup dengan berbagai kesedihan, hidup kita akan menarik apabila diceritakan.
Pramoedya Ananta Toer adalah anak bangsa yang terlupakan dan dilupakan, padahal dia sangat bangga menjadi warga Negara Indonesia dengan alasan “saya mendapatkan kewarganegaraan saya dengan tidak mudah”begitulah yang beliau katakan. Seorang pengarang yang besar ini yang berani melawan arus, tak dikenal oleh bangsanya sendiri, karna dianggap bandit pada zaman OrBa, dan seperti dalam kutipan novelnya, kehidupanya sangat menarik, karna kesenangannya telah dirampas. (Janzan)
Nama aslinya Pramoedya Ananta Mastoer. Ia menghapus awalan “Mas” karena dinilai terlalu ningrat dan aristokrat. Ia lahir di masa kolonialisme masih mencengkramkan kukunya di bumi pertiwi. Ia dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan. Bapaknya seorang guru sedang ibunya seorang penjual nasi. Pram kecil lebih suka bergaul dengan anak-anak buruh tani dekat rumahnya. Tak ada yang istimewa menjadi anak yang dihormati masyarakat. Sekali waktu ibunya berpesan, “Pram, jadilah manusia bebas, jadilah majikan untuk dirimu sendiri. Tapi ingat Pram. Jangan sekali-kali melanggar hak orang lain.” Pram adalah sastrawan besar yang menghasilkan puluhan karya. Karya-karyanya dibubuhi tema-tema kebebasan dan kemanusiaan.
Tulisan-tulisannya dianggap ancaman bagi penguasa. Tulisannya ibarat duri tajam yang menusuk kaki kuasa sang penguasa. Lewat tulisannya, ia harus menekam di gelapnya penjara, hingga mengahabiskan masa mudanya. Di setiap rezim, badannya selalu dikurung jeruji besi. Bukit duri, Nusakambangan, Buru, hingga di rumah sendiri pun ia harus jadi tahanan. Meski begitu, menulis adalah tugas pribadi dan negara yang musti dilakukan. Lewat penahanan, Pram justru menghasilkan karya yang menginspirasi semua orang untuk menulis;Walau tulisannya dilarang di negerinya sendiri. Berbagai penghargaan, dalam maupun luar negeri diterimanya tanpa mengemis.
Lewat Pram, kita bisa belajar bagaimana idealisme mustilah dipegang teguh. Penjara, pengasingan, pelarangan bukan sebuah halangan untuk selalu menulis dan membaca. Juga, tulisan-tulisannya mengajarkan kita untuk untuk selalu jujur terhadap sejarah. Terlepas dari stigma negatif–ia selalu dituduh oleh sebagian sastrawan, terutama mereka yang tergabung dalam Manikebu, sebagai penindas kebebasan berekspresi dulu di zaman demokrasi terpimpin–yang tertuju padanya, membaca karya Pram adalah membaca bagaimana manusia harus tetap pada kemanusiaannya tanpa harus merampas hak orang. (Gipal)
Pramoedya ananta toer atau yang dikenal dengan pram, adalah seorang tokoh sastrawan yang dengan pemikrannya dan karya-karyanya, sangat mempengaruhi sekali dalam dunia sastra.
Seseorang yang dimana sangat peduli sekali terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan menjunjung tinggi keadilan bagi umat manusia. Yang hari ini tak sedikit sekali orang-orang yang mengabaikan hal-hal seperti itu. Makanya pram selalu mengajak kiita bukan saja ingatan, tapi juga pikir, rasa, bahkan diri untuk bertarung dalam golak gerakan nasional. Supaya orang-orang sadar akan nilai kemanusiaan dan peduli dengan lingkungan sekitar supaya terciptanya memanusiakan manusia.
Orang-orang indonesia harus tahu dan mengenal sosok pram ini, supaya indonesia tahu bahwa banyak orang-orang hebat seperti pram ini yang selalu terlupakan dan dilupakan. (Aldi)