preloader
  • Beranda
  • Memahami Puisi dari Kacamata Petani Kendeng

Pada tanggal 21 bulan Maret, seperti yang telah ditetapkan UNESCO pada tahun 1999, diperingati sebagai hari puisi sedunia.

blog-thumb

Pada tanggal 21 bulan Maret, seperti yang telah ditetapkan UNESCO pada tahun 1999, diperingati sebagai hari puisi sedunia. Seperti yang dikutip dari Tirto.id, tanggal tersebut dipinjam bukan dari hari lahir seorang penyair besar atau penerbitan buku puisi penting, melainkan hari pertama musim semi di belahan utara Bumi. UNESCO tidak menerangkan pilihan tanggal itu lebih jauh.

Sebagai salah seorang yang gemar menulis puisi meski tidak pandai, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Bagaimana cara merayakan sebuah hari-hari yang memiliki keistimewaan, saya tidak pernah memahaminya. Apakah akan cukup dengan hanya menulis status “Selamat Hari Puisi Sedunia” di berbagai media sosial? Tapi yang jelas, saya tidak akan merayakan hari puisi sedunia dengan pergi ke hutan lalu belok ke pantai.

Lalu apa itu puisi?

Schmitt dan Viala (1982: 116) berpendapat bahwa masyarakat Yunani memahami puisi sebagai seni menciptakan bahasa yang berbeda dari pemakaian bahasa sehari-hari. Dalam bahasa Yunani sendiri puisi atau poiein berartikan membuat atau menciptakan. Sedangkan Pradopo (2007: 314) berpendapat bahwa puisi adalah ucapan atau ekspresi tidak langsung. Puisi juga merupakan ucapan ke inti pati masalah, peristiwa, ataupun narasi.

Banyak sekali pengertian puisi yang saya temukan. Seperti juga cinta, saya menganggap menuliskan sebuah pengertian puisi dari para ahli tidak akan pernah ada habisnya. Tapi meski demikian, ada satu pengertian puisi yang berhasil mencuri hati saya dan membuat saya semakin jatuh cinta pada puisi. Hal itu datang dari perkataan Emily Dickinson. Ia menganggap puisi adalah ketika membaca sebuah buku dan buku itu berhasil membuatnya sedemikian menggigil sehingga tiada api yang mampu menghangatkannya. Ketika ia merasa secara fisik bahwa ubun-ubunnya dicomot, ia tahu itulah puisi. Adakah sesuatu yang lain seperti itu?

Puisi, dilihat dari perkataan Emily Dickinson, bagi saya, adalah masyarakat pedesaan bentang alam karst Kendeng yang datang ke Jakarta untuk menemui Presiden Jokowi dan menuntut haknya atas tanah milik mereka agar tidak diganggu dan dirusak dengan akan dibangunnya pabrik semen milik PT. Semen Indonesia di Rembang dan semen lainnya di pegunungan Kendeng.

Aksi masyarakat Kendeng yang menyemen kakinya membuat hati nurani manusia tersentuh, atau seperti yang dikatakan Emily Dickinson dalam memahami puisi, menggigil sehingga tiada api yang mampu menghangatkannya.

Aksi “Dipasung Semen Jilid II” oleh para petani Rembang di depan Istana Negara, Jakarta, sudah berlangsung sejak 13 Maret 2017 lalu. Dan aksi penolakan ini akan terus berlanjut selama tuntutan mereka yang dimenangkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia yang membatalkan izin lingkungan pada 5 Oktober 2016; dan mengganggu usaha warga untuk mendapatkan keadilan atau membiarkan berlangsungnya gangguan dari pihak lain.

Cara para petani Kendeng dalam menuntut keadilan memang tidak mengeluarkan suara macam Wiji Thukul atau Chairil Anwar dan seterusnya, dan seterusnya dengan membaca sebuah puisi penuh provokasi. Aksi mereka adalah aksi diam dan damai karena hanya duduk di depan Istana Negara dan menyemen kakinya. Aksi yang terlampau sunyi. Tapi meski demikian, kesunyian mereka, atas nama kemanusiaan dan keadilan, berhasil terdengar sangat lantang hingga ke berbagai kota dan pelosok di Indonesia.

Terbukti, sampai hari ini, di berbagai media sosial, banyak sekali orang yang bersimpati atas apa yang dilakukan oleh petani Kendeng. Atas nama kemanusiaan, hal itu memunculkan sebuah kesadaran aksi solidaritas dan kampanye untuk membela petani Kendeng. Seperti yang dikutip dari Komunalstensil, sebab apa yang terjadi di Jakarta adalah bukti bahwa pemerintah tak pernah berpihak pada masyarakat kecil.

Kampanye itu juga dilakukan oleh banyak kalangan aktivis dari berbagai komunitas. Perpustakaan Jalanan Karawang, misalnya, bekerja sama dengan pemuda Karawang lainnya, melakukan sebuah aksi solidaritas dengan berbagi dan membaca puisi melalui tema “Sawah Habis di Negeri Agraris” pada 21 Maret 2017 di kedai Das Kopi.

Puisi, dalam hal ini, bukan hanya sekadar kata-kata sedih yang kadang ditulis dengan berlebihan. Tapi lebih jauh dari itu, puisi adalah suatu ungkapan mengenai berbagai hal. Salah satunya adalah perjuangan untuk melawan segala macam ketidakadilan. Para pencinta puisi, seperti juga saya, bisa saja menulis puisi dengan genre apa saja yang disukai. Tapi untuk membuat puisi menjadi sebuah tindakan seperti yang dilakukan para petani Kendeng, bukanlah sesuatu yang mudah karena memerlukan kesadaran dan keberanian yang lebih atas rasa kemanusiaan yang tanpa pamrih.

comments powered by Disqus